Rabu, 12 Mei 2010

Ketika Pangan Beralih Fungsi

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai angka 30% pada Mei silam, telah mencekik rakyat Indonesia. Apalagi harga bensin premium bersubsidi yang menjadi bahan bakar pokok sebagian besar kendaraan masyarakat Indonesia. Alhasil, efek domino imbas dari kenaikan BBM ini lambat laun dirasakan masyarakat.

Harga BBM yang kerap meningkat mengikuti harga minyak dunia ini menyebabkan orang beralih ke bahan bakar alternatif berupa bioenergi. Bahkan, Indonesia sempat dihebohkan dengan kasus Blue Energy Joko Suprapto yang sempat dibantah oleh ilmuwan-ilmuwan asal Universitas Gajah Mada (UGM). Para ilmuwan meyakini bahwa hidrogen dalam air terlalu sulit untuk diurai.

Namun campuran 70 persen air dan 30 persen solar ini ternyata belum apa-apa bila dibandingkan temuan Jepang, mobil yang hanya dengan bahan bakar satu liter air jenis apa saja bisa mencapai kecepatan 80 kilometer per jam. Mobil buatan Jepang ini mampu memurnikan hidrogen dari air yang tersimpan di dalam tangki mobil. Pembangkit energi ini membebaskan elektron-elektron yang menghasilkan tenaga listrik untuk menjalankan mobil. Uniknya, mesin mobil ini mampu bisa menggunakan berbagai jenis air untuk bahan bakarnya. Baik air hujan, air sungai, air laut, bahkan air teh sekalipun.

Jika blue energy masih menimbulkan pro kontra di Indonesia, beda dengan bioenergi yang sudah lama berkembang di Indonesia. Tren penggunaan bahan bakar alternatif ini sendiri sebenarnya sudah mulai merambah Indonesia sejak era 80-an. Kampus-kampus negeri juga kerap melakukan penelitian mengenai energi alternatif ini. Bahkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuka pabrik biodiesel pertama di Indonesia yang mampu memproduksi dengan kisaran 500 kg sampai dengan 1,5 ton per harinya pada 2005.

Maraknya penelitian ini juga di dorong oleh Brasil yang pada 1975 berhasil mengunakan bahan bakar alternatif (gasohol) secara nasional. Tiap tahunnya negara itu menggunakan 11 juta kiloliter setahun. Tren penggunaan bahan bakar alternatif ini juga kemudian diikuti oleh 13 negara lainnya yang menggunakan gasohol mapun biodiesel sebagai bahan bakar resmi untuk mobil sejak 2003. Negara-negara itu diantaranya, Uni Eropa, Australia, Jerman, Kanada, Swedia, dan Thailand.

Baik gasohol maupun biodiesel yang merupakan keluarga biofuel menggunakan bahan pangan sebagai bahan pembuatannya. Biofuel sendiri merupakan bahan bakar yang berasal dari materi organik non fosil atau biomass (Minyak Emas Terbarukan). Bahan baku biofuel diolah dari tumbuhan penghasil pati (jagung, sagu, dan singkong, plantoil (tanaman berminyak seperti kelapa sawit), dan bio-oil (sekam, gagang sawit).

Semua tanaman itu sedikit banyak menghasilkan etanol, unsur penting dalam urusan bahan bakar. Etanol sendiri mengandung 35 persen oksigen sehingga meningkatkan efisiensi proses pembakaran. Ia juga bisa digunakan sebagai zat adiktif karena kemampuannya untuk meningkatkan jumlah angka oktan dalam bahan bakar. Dengan ini semua, maka tidak heran jika biofuel digalakkan sebagai energi alternatif.

Upaya ini ditentang oleh para aktivis lingkungan hidup. Sebagai pakar lingkungan hidup, Emil Salim pernah mengatakan, energi biofuel yang kerap digembar-gemborkan pemerintah seharusnya menjadi prioritas terendah setelah seluruh alternatif sumber energi lainnya diberdayakan. Hal ini disampaikan di tengah-tengah diskusi tentang "Global Warming" yang diselenggarakan Universitas Paramadina di Jakarta, 2007.

Emil Salim juga menuturkan, energi biofuel yang berasal dari "palm oil" atau pohon kelapa sawit membutuhkan banyak lahan untuk menanam tanaman tersebut. "Tanah di Indonesia seharusnya `diselamatkan` terlebih dahulu untuk mencukupi bahan pangan," ujar mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup itu.

Sementara itu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Asia Tenggara untuk Greenpeace, Nur Hidayati mengemukakan bahwa merupakan hal yang ironis untuk mengedepankan pemakaian biofuel karena kebutuhan untuk energi terbarukan seperti biofuel itu juga mempercepat laju kerusakan hutan di Indonesia. "Permintaan minyak kelapa sawit yang lebih banyak dari negara maju seperti negara di benua Eropa untuk memperoleh energi biofuel akan mempercepat laju deforestasi,” kata Nur Hidayati di seminar yang sama dengan Emil Salim.

Biofuel yang diproses melalui tanaman komoditas seperti jagung, kacang kedelai, dan singkong saat ini dilihat sebagai suatu jalan keluar untuk meneruskan keberlangsungan ekonomi kapitalisme. Apalagi petani sekarang yang sudah beralih profesi. Dari melakukan tugas menanam tanaman pangan, menjadi penanam tanaman penyedia energi. Para produsen melakukan ini untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman biofuel dengan lebih cepat lagi demi mengejar permintaan ekonomi yang semakin meningkat.

Padahal, biofuel harusnya diletakkan pada prioritas paling rendah. "Biofuel harusnya diletakkan sebagai prioritas yang paling rendah setelah kita kembangkan sumber-sumber energi lain seperti panas matahari, angin, dan sungai," ujar Emil Salim.

Semakin tinggi permintaan pasar, maka semakin tinggi pula upaya eksploitasi dan ekplorasi yang dilakukan demi memenuhinya. Untuk melawannya, mari kita katakan bersama: stop produksi, stop konsumsi!

Tidak ada komentar: