Selasa, 11 Mei 2010

Sejarah Bendera dalam Islam

Oleh Diyah Kusumawardhani

Tahukah Sob kalau jaman dahulu bendera Islam hanya menggunakan satu warna? Namun bukan berarti bernaung pada satu warna, melainkan hanya menggunakan satu warna saja.

Bendera Islam, menurut Wikipedia, sebuah bendera yang sesuai dengan aturan Islam. Bendera Islam pada jaman dulu ini hanya menggunakan satu warna. Warna-warna favorit itu adalah hitam, putih, merah dan hijau. Salah contohnya adalah bendera Libya jaman dulu yang berwarna hanya hijau tanpa corak atau motif diatasnya.

Sejarahnya bendera Islam ini nih Sob, sebenarnya umat Islam pada awalnya tidak memiliki simbol apa-apa. Entah itu lambang ataupun tulisan. Nah, pada masa nabi Muhammad saw, pasukan Islam dan para kafilah menggunakan bendera satu warna untuk tujuan identifikasi. Warna yang digunakan biasanya hitam atau putih. Pada generasi selanjutnya, para pemimpin Islam melanjutkan tradisi bendera ini dengan hanya menggunakan warna hitam, putih atau hijau tanpa tanda, tulisan dan simbol apapun untuk digunakan pada bendera mereka.

Apa fungsi bendera-bendera ini pada jaman Rasulullah? Ternyata, Rasul menggunakan bendera-bendera ini untuk membedakan warna pada ghazwah (ekspedisi militer atau perang yang diikuti oleh rasulullah) dan sariyyah (ekspedisi militer atau peperangan yang tidak diikuti langsung oleh Rasul). Dikisahkan bahwa para pengikut rasulullah berjuang di bawah naungan bendera putih. Sedangkan bendera utama milik nabi Muhammad dikenal sebagai "al-Uqaab". Al-Uqaab berwarna hitam, tanpa simbol-simbol atau tanda apapun. Sedangkan nama dan warna itu mengadopsi bendera milik kaum Quraisy.

Warna-warna juga digunakan sebagai representasi dinasti-dinasti di Arab. Misalnya seperti warna putih yang menjadi warna Dinasti Umayyah. Dinasti Abbasiyah menggunakan bendera berwarna hitam. Dinasti Fatimiyah yang berpaham Syiah menggunakan hijau sebagai warna tradisional mereka, sementara yang digunakan Bani Hasyim adalah merah.

Pada 1911, saat digelar pertemuan di Istanbul, diputuskan bahwa bendera modern yang mewakili semua orang Arab harus mencakup semua empat warna ini. Tiga tahun kemudian, masyarakat muda Arab memutuskan bahwa negara Arab independen kedepannya harus menggunakan bendera dari warna-warna ini. Pada 30 Mei 1917 Hussein bin Ali, Sharif dari Mekah yang juga pemimpin Pemberontakan Hijaz mengganti bendera merah polos dengan tiga garis horizontal berwarna hitam, hijau, dan putih ditambah segitiga merah di sekitar kerekannya. Ini dipandang sebagai kelahiran bendera pan-Arab.

Sejak saat itu, banyak negara-negara Arab, setelah mencapai kemerdekaan atau perubahan rezim politik, menggunakan kombinasi warna ini dalam sebuah desain yang mencerminkan bendera Pemberontakan Hijaz. Kombinasi warna ini dapat ditemukan di bendera Irak, Suriah, Yaman, Mesir, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Otoritas Nasional Palestina, Aljazair, dan Sudan, dan mantan bendera Irak dan Libya.

Ornamen Tambahan Bendera

Beberapa bendera Arab dihiasi dengan beberapa simbol atau tulisan. Seperti bendera dari Libya, Turki, Tunisia, Turkmenistan, Maroko, Pakistan dan Arab Saudi.

Pada masa Kekaisaran Ottoman, bulan sabit dan bintang berafiliasi dengan dunia Muslim. Ada sebuah legenda yang menyatakan bahwa pendiri Kekaisaran Ottoman, Osman I, bermimpi melihat bulan sabit membentang dari satu ujung bumi ke ujung lainnya. Ia mentakwilkannya sebagai pertanda baik dan dia memilih untuk menggunakan bulan sabit ini sebagai simbol dinastinya.

Ada spekulasi filosofi lima titik pada lambang bintang mewakili lima rukun Islam. Dugaan ini bukanlah filosofi bendera Ottoman, dan juga bukan filosofi yang harus ada pada bendera-bendera yang digunakan di dunia Islam saat ini. Bulan sabit dan bintang tidak memiliki signifikansi apapun secara keagamaan terhadap Islam, namun lebih mengarah kepada ikon pagan kuno. Sehingga tidak heran jika banyak sarjana Muslim yang menentang penggunaan tanda-tanda ini di menara masjid atau menggunakannya untuk menunjukkan simbolisasi masyarakat Muslim.

Ketika Selim I kembali berkuasa sebagai khalifah, bendera Ottoman berwarna merah dengan lingkaran hijau kuning serta dihiasi tiga bulan sabit. Utsmani untuk pertama kalinya memisahkan antara bendera agama dan bendera nasional. Bendera nasional berwarna merah dengan bulan sabit menghadap ke kanan, sementara bendera keagamaan hijau dengan bulan sabit menghadap kanan juga. Kemudian, sebuah bintang bersegi lima ditambahkan untuk melambangkan lima rukun Islam. Khas bendera hijau dengan bulan sabit dan bintang menjadi bendera standard negara Islam.

Menariknya, sebagian besar orang berpikir bahwa bendera ini telah digunakan oleh umat Islam sejak awal. Bendera bulan sabit ini dengan beberapa variasi masih digunakan oleh berbagai entitas Muslim; misalnya, Aljazair, Azerbaijan, Komoro, Malaysia, Maldives, Mauritania, Pakistan, Tunisia, Turki, Turkmenistan, Republik Turki Siprus Utara, Uzbekistan, dan Sahara Barat.


Namun berdasarkan sejarah ini pula, banyak umat Islam menolak menggunakan bulan sabit sebagai simbol Islam terutama negara-negara Arab (Aljazair dan Tunisia menjadi pengecualian). Islam secara historis tidak memiliki simbol dan banyak yang menolak untuk menerima apa yang pada dasarnya merupakan ikon pagan kuno ini.

Selain simbol bulan sabit dan bintang yang paling sering digunakan sebagai ornamen bendera, ada juga tulisan. Yaitu penggunaan kalimat syahadat (la ilaha illa-llāh, wa Muhammad rasūlu-llāh) dan kalimat takbir (Allahu Akbar) yang keduanya dibuat dalam tulisan Arab. Seperti bendera Irak yang menggunakan warna pan-Arab dengan tambahan kalimat takbir, Arab Saudi dan Afghanistan yang menggunakan kalimat syahadat.

Bendera mengandung kalimat takbir dan kalimat syahadat sangat dihormati, karena merupakan inti dari keyakinan umat Islam. Penodaan terhadap bendera dengan tambahan ornamen tulisan tersebut dapat dirasakan sebagai serangan terhadap Islam tanpa memandang kebangsaan. Sedangkan penyerangan sebuah negara Islam yang benderanya tidak mengandung ungkapan-ungkapan ini, tidak akan dipandang sebagai serangan terhadap agamaIslam itu sendiri, tetapi hanya serangan terhadap negara.


Bendera yang bertuliskan kalimat syahadat atau kalimat takbir juga banyak digunakan sebagai lambang pada seragam tentara, angkatan laut dan pejabat pemerintah maupun kendaraan. Dalam beberapa kondisi hal ini tidak direkomendasikan. Sebab, sesuai dengan ajaran Islam tulisan-tulisan ini dilarang masuk ke toilet karena tulisan ini diambil dari al-Qur'an.

Sumber: Wikipedia

1 komentar:

Liwa-Rayah Production | Miniatur Bendera Islam mengatakan...

literatur lain tentang bendera islam, cek disini http://liwarayahproduction.wordpress.com/