Selasa, 11 Mei 2010

Menjadi Penjaga Api Sejarah

Oleh Diyah Kusumawardhani

“Pak, boleh gak kalau gak dua ribu, satu orang? Kita rame-rame nih pak. Uang kita cuma ada segini,” ujar salah seorang remaja yang usianya berkisar 13-15 tahun yang bergerombol di pintu masuk. Yang lainnya ikut melancarkan rayuan, “iya nih pak. Boleh ya pak?”

eL-Ka yang curi-curi dengar sambil membaca semacam standing banner tentang ‘Kelas Sosial di Batavia Versi VOC’ jadi ketawa geli. Sedangkan si penjaganya cuma senyam-senyum mengabaikan celotehan remaja-remaja tadi sambil terus menyobeki tiket sebanyak jumlah pelajar SMP tadi. Akhirnya, aksi tawar-menawar dengan penjaga yang menjual tiket masuk Museum Fatahillah pun akhirnya dimenangkan oleh sang penjaganya.

Di sisi lain, nampak serombongan anak-anak sekolah dasar yang sibuk mencatat benda-benda sejarah yang dipajang di sudut-sudut ruangan. Setiap kelompok anak di dampingi satu orang guru yang bertugas mengawasi dan memberikan pengarahan serta penjelasan. Celotehan anak-anak tersebut memenuhi ruangan. Satu-dua guru nampak mengabadikan benda-benda sejarah itu dengan kameranya. Tak ketinggalan polah anak-anak didiknya yang lucu-lucu itu diabadikannya juga.

Museum Fatahillah dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Dulunya gedung ini adalah Stadhuis (Balai Kota) ini dibangun pada 1707-1710. Jadi, pada 25 januari 1707, bangunan balai kota ini merupakan bongkaran dari bangunan yang sebelumnya. Dan pada pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham Van Riebeeck, tepatnya pada 10 Juli 1710, pembangunan balai kota pun selesai.

Museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat ini serupa dengan Istana Dam di Amsterdam. Luasnya yang mencapai 1300 meter persegi ini membuat bangunan ini memiliki bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Akhirnya, pada 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Salah satu daya tarik Museum Fatahillah adalah pada Meriam Si Jagur. Sejarah mencatat bahwa meriam kuno yang disebut Si Jagur ini dibuat oleh MT Bocarro di Macao sebagai peralatan tempur. Kemudian diangkut ke Malaka untuk memperkuat benteng Portugis di Malaka. Ketika Malaka jatuh ke tangan VOC pada 1641, Meriam Si Jagur diangkut ke Batavia, untuk memperkuat pertahanan Batavia dari ancaman musuh.

Pada punggung belakang meriam ini tertera tulisan bahasa latin EX ME IPSA RENATA SUM yang terjemahan bebasnya adalah DARI DIRIKU SENDIRI AKU LAHIR KEMBALI. Dari tulisan latin itu bisa ditafsirkan bahwa Meriam Si Jagur dilebur dari meriam-meriam kecil yang jumlahnya 16 buah. Namun ada kisah lain yang menceritakan bahwa Meriam Si Jagur merupakan peleburan dari tujuh meriam dan ditemukan di Kali Ciliwung dekat pasar ikan sebelum diletakkan di Jembatan Kota Intan. Hmm, yang mana yang benar ya Sob?

Remaja dan Sejarah Bangsa Kita

Bagi sebagian remaja nih Sob, mengunjungi museum atau situs-situs sejarah lainnya mungkin bukanlah sebuah hal yang mengasyikkan. Gak up to date. Museum bukan pilihan pertama sebagai tempat wisata. Mereka lebih memilih mall dan bioskop untuk menghabiskan waktu liburan mereka.

Jangankan menghabiskan waktu di museum atau situs-situs sejarah, wong tiap jam pelajaran Sejarah aja kita seringnya ketiduran. Hayo ngaku deh! Karena kelas Sejarah sama halnya dengan kelas mendongeng. He he he....

Padahal nih Sob, menghabiskan waktu liburan dengan mengunjungi museum-museum atau situs-situs sejarah banyak manfaatnya lho. Kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan dari benda-benda sejarah yang dipampang di setiap sudut sudutnya, atau bahkan menyelami setiap makna dibalik setiap lekuk teksturnya. Setelah itu, pengetahuan atas benda-benda sejarah tadi bisa menstimulus kita untuk lebih menghargai perjuangan para pendahulu kita.

Seperti halnya ketika kita mempelajari sirah nabawiyah. Mempelajarinya bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa itu. Melainkan, mengkajinya untuk menarik pelajaran dan menemukan rumusan kesuksesan generasi masa lalu untuk diulang di kehidupan masa kini. Apalagi sasaran utama dari mengkaji sirah adalah untuk mengembalikan semangat juang merebut kembali kejayaan yang pernah dimiliki umat Islam.

Begitu juga dengan sejarah kita. Karena menurut seorang sejarawan, ada jasa para ulama kita dalam mewujudkan kemerdekaan di negara kita. Seperti dalam buku Api Sejarah karangan Ahmad Masyur Suryanegara misalnya, yang menuliskan sisi lain dari sejarah perjuangan Indonesia yang dimotori oleh para ulama dan santri.

"Tak bisa dipungkiri bahwa perjuangan para ulama zaman dulu, bersama laskar Hizbullah, dan segenap entitas umat Islam lainnya ketika itu, memang dilakukan secara tulus ikhlas. Hanya untuk mengharap ridha Allah dalam mengusir kaum kafir di Indonesia,” ujar Ahmad Mansur, seperti dikutip eL-Ka dari Annida Online.

Ia pun melanjutkan, saking tulusnya para ulama itu berjuang, mereka sampai nggak pernah menyadari bahwa alur sejarah Indonesia telah direkayasa kaum sekuler dan menafikan mereka dari sejarah panjang Indonesia.

Bung Karno dalam surat dari Endeh yang dimuat dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi Djilid I menuliskan, “selama ini kita hanya mampu membaca abunya sejarah, tapi tidak dapat menangkap apinya sejarah.” Nah, kiprah para ulama yang tak tercatat sejarah ini diumpamakan sejarawan yang masih aktif mengajar di program doktoral Universitas Padjadjaran, Bandung ini sebagai abu sejarah.Pada akhirnya ulama memang selalu menjadi abu sejarah di Indonesia, bukan apinya," tuturnya.

Sudah sepantasnyalah kita sebagai generasi muda untuk terus menjaga agar api sejarah bangsa kita tidak padam. Bagaimana caranya? Untuk tetap menyalakan api sejarah umat Islam di Indonesia Ahmad Mansur menyebutkan salah satunya dengan menulis dan menerbitkan buku. Nah, bagaimana dengan Sob semua? Mau ikutan menjadi salah satu penjaga api sejarah?

Tidak ada komentar: