Selasa, 11 Mei 2010

Seni Arsitektur Barat yang Terinspirasi Timur

Oleh Diyah Kusumawardhani

Tahukah Sob kalau gaya arsitektur renesains Italia banyak dipengaruhi oleh karya seorang arsitek jaman Kekaisaran Turki Utsmani (Ottoman)?

Jadi, tersebutlah Mimar Sinan (1490-1588), seorang kepala arsitek Sultan Suleiman I, Selim II dan Murad III. Ia bertanggung jawab atas konstruksi lebih dari 300 bagunan utama di Istanbul pada masanya. Tapi uniknya, sentuhan karyanya itu banyak menginspirasi para seniman Eropa.

Nah, sejauh mana sih kekaisaran Ottoman mempengaruhi gaya arsitektur di seluruh Eropa? Menurut ahli desain dan arsitektur Jonathan Glancey, hal ini masih dapat Sob temui dari berbagai bangunan peninggalannya di Istanbul. Karena disana sampai saat ini masih terdapat banyak peninggalan yang berupa keajaiban pekerjaan konstruksi yang tidak terhitung jumlahnya.

Gaya-gaya arsitektur yang ditemukan Glancey di Istanbul ini mengingatkannya akan karya arsitek Ottoman Mimar Sinan pada abad ke-16. Karya-karya Sinan ternyata mempengaruhi karya seniman kontemporer Michelangelo dan Andrea Palladio. Keduanya arsitek paling berpengaruh di Italia dan jejak-jejak desain Sinan bisa ditemukan pada karya-karya keduanya.

Karya-karya Sinan diantaranya Masjid Suleymaniye di Istanbul dan Masjid Selimiye di Edirne. Seperti Komplek Masjid Raya Suleymaniye di Istanbul yang merupakan salah satu prestasi terbesar arsitektur Ottoman yang terletak di bukit kedua di Istanbul. Ini adalah masjid terbesar kedua di kota dan sekaligus pemandangan paling terkenal di Istanbul. Masjid ini dibangun atas perintah Sultan Suleiman I dan digarap oleh Sinan antara 1550-1557. Pada saat dibangun, kubahnya termasuk yang tertinggi bila diukur dari permukaan laut.

Hubungan yang terbangun antara Ottoman dan para renesains Eropa bukan saja terjalin dalam hubungan politik, budaya, dan perdagangan saja. Para sejarawan bahkan telah mencatat pengaruh arsitektur yang ada antara keduanya di masa modern ternyata memiliki relasi satu sama lain.

Sebut saja kubah Michelangelo di Roma yang dipengaruhi oleh masjid-masjid karya Sinan di Istanbul. Saking miripnya, nampak seperti Sinan yang “mencontek” desain-desain milik orang-orang Italia ini. Lalu, penyokong Seniman Andrea Palladio (1508-1580), Marcantonio Barbaro, enam tahun menjadi duta besar Venesia di Istanbul. Ini memungkinkan terjalinnya hubungan antara Sinan dan sang arsitek gereja megah St Giorgio Maggiore di Venesia, Palladio melaluinya. Bassilika buatannya ini terinspirasi oleh desain milik Sinan.

Ada beberapa fakta menarik mengenai hubungan ini yang disampaikan Deborah Howard dan Stefano Carboni melalui buku-bukunya. Deborah Howard dalam bukunya Venice and The East: The Impact of The Islamic World on Venetian Architecture (1100-1500) meneliti pengaruh dunia Islam di Venesia melalui bangunan dan dekorasi arsitekturnya. Ada banyak situs di Venesia yang nampak pengaruh Islamnya ditampilkan Howard dalam bukunya.

Ada bagian di Istana Venesia, dan merunut kepada pelacakan tradisi motif arsitektur seperti lengkungan ogee dan jendela mihrab, arsitektur Istana Venesia berada di luar ruang lingkup jangkauan sejarah seni. Hal ini mempertimbangkan seperti apa yang dikatakan masyarakat Venesia sebagai penanda adanya pengaruh timur dan sebagai tempat sosial. Desain dan dekorasi yang tidak biasa dari Palazzo Ducale yang mirip arsitektur Mamluk ini ditampilkan sebagai maksud mencitrakan Venesia sebagai pusat perdagangan dunia pada masa itu.

Dalam bab terakhir buku Howard menyebutkan bahwa Venesia adalah bagian daripada rute haji, yang menempatkan Venesia dalam hubungan komparatif-konstan ke tanah suci. Orang-orang Venesia lebih suka membangun lingkungannya menyerupai tempat suci-tempat suci yang ada daripada menirunya, hingga akhirnya kota ini mendapat istilah “flickering mirage” (kerlip fatamorgana) Yerusalem.

Stefano Carboni penulis Venice and The Islamic World (828-1797) menceritakan tentang gairah hubungan antara Venesia dan wilayah-wilayah Islam di jaman pra-modern. Dimulai dari 828, sejak para pedangang Venesia membawa pulang relikui St Mark curian dari Alexandria sampai pada jatuhnya Republik Venesia ke tangan Napoleon Bonaparte pada 1797, ia mengemukakan bahwa seni visual di Venesia secara dramatis telah dipengaruhi oleh seni Islam.

Mungkin karena posisi strategisnya di Mediterania, Venesia akhirnya menjadi tempat persinggahan barang-barang seni dari Timur melalui jalur perdagangannya. Selama beberapa periode ke depan Venesia pun berkembang sebagai pusat perdagangan, politik, dan diplomasi. Carboni juga membahas tentang kebangkitan monumental Venesia sebagai pusat pasar Eropa dan bagaimana serta mengapa kota ini menyerap budaya dan seni Islam.

Esai para ilmuwan ini menunjukkan bahwa memang ternyata ada hubungan yang unik antara Timur dan Barat melalui benda-benda seninya.

Sumber: http://muslimheritage.com/

Tidak ada komentar: